Proyek Relokasi Pipa PDAM

Gambar diatas atas adalah proyek yang dikerjakan PT. Zain Prima Persada saat relokasi pipa PDAM di Tanjung Sari Sumedang.

Dalam kutipan Wikipedia, PDAM adalah Perusahaan Daerah Air Minum (disingkat PDAM) merupakan salah satu unit usaha milik daerah, yang bergerak dalam distribusi air bersih bagi masyarakat umum. PDAM terdapat di setiap provinsi, kabupaten, dan kotamadya di seluruh Indonesia. PDAM merupakan perusahaan daerah sebagai sarana penyedia air bersih yang diawasi dan dimonitor oleh aparat-aparat eksekutif maupun legislatif daerah.

Perusahaan air minum yang dikelola negara secara modern sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda pada tahun 1920-an dengan nama Waterleiding sedangkan pada pendudukan Jepang perusahaan air minum dinamai Suido Syo (水道所).

Pada tahun terbit Permen OTDA No. 8/2000 tentang Pedoman Sistem Akuntasi PDAM yang berlaku sampai sekarang. Program WSSLIC I dilanjutkan pada tahun ini dengan nama WSLIC II (Water and Sanitation for Low Income Community),

Pada tahun 2002 Terbit Keputusan Menteri Kesehatan No. 907 Tahun 2002 tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum, yang akan menjadikan pedoman dalam monitoring kualitas air minum yang diproduksi oleh PDAM. Dalam rangka meningkatkan kinerja PDAM dan pembangunan sistem penyediaan air minum, dilakukan upaya perumusan kebijakan melalui Komite Kebijakan Percepatan Pembangunan Infrastruktur (KKPPI), untuk merumuskan kebijakan dan strategi percepatan penyehatan PDAM melalui peningkatan kerjasama kemitraan dengan pihak swasta/investor.

Dimulai tahun 2004 inilah merupakan tonggak terbitnya peraturan dan perundangan yang memayungi air minum yaitu dimulai dengan terbitnya UU no 7 Tahun 2004 tentang SDA (sumber daya air). Setelah 60 tahun Indonesia merdeka pada tahun ini Indonesia baru memiliki peraturan tertinggi disektor air minum dengan terbitnya PP (peraturan pemerintah) No 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan SPAM (sistem penyediaan air minum). Dengan dimulainya kembali pembinaan Air Minum dari yang semula berbasis “wilayah” menjadi berbasis “sektor” lahir kembali Direktorat Jenderal Cipta Karya dan Direktorat Pengembangan Air Minum keluarlah kebijakan “Penyehatan PDAM” yang dimulai dengan dilakukannya Bantek Penyehatan PDAM.

Tahun 2009 adanya gagasan 10 juta SR (Sambungan Rumah) dimana Direktorat Jenderal Cipta Karya,Dep PU telah menghitung dana yang dibutuhkan sekitar Rp 78,4 triliun, yang terdiri dari kebutuhan pembangunan unit air baku 85.000 l/detik sebesar Rp 7,4 triliun, peningkatan unit produksi 65.000 l/detik sebesar Rp. 17 triliun, dan peningkatan unit distribusi dan sambungan rumag sebesar Rp. 54 triliun Pembangunan IKK yang telah dimulai kembali tahun 2007 juga dilanjutkan dengan membangun 150an IKK (bp). [Sumber: Wikipedia PDAM]

Upaya PDAM Menghadapi Kebutuhan Air untuk Masyarakat

Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Indonesia menghadapi berbagai jenis risiko saat mana PDAM menyediakan air bersih kepada pelanggannya. Risiko-risiko ini mencakup perubahan tata guna lahan, urbanisasi yang cepat dan tidak tekendali, kompetisi untuk memperoleh sumber daya air yang terbatas, dan bencana alam. Yang penting diperhatikan bahwa banyak risiko-risiko ini akan-dan pada beberapa hal-diperparah oleh dampak negatif perubahan iklim, yang merubah lama dan intensitas pola hujan di seluruh kepulauan Indonesia. Jika risiko-risiko tersebut dapat diantisipasi dan dipantau dengan tepat, PDAM dapat menjalankan fungsinya dengan lebih baik bagi kepentingan pelanggannya.

Dengan potensi beratnya permasalahan yang disebabkan perubahan pola hujan, penting bagi PDAM, pemerintah kabupaten selaku pemilik, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengkaji sejauh mana perubahan iklim akan memberikan dampak pada penyediaan air bersih, termasuk upaya-upaya adaptasi yang sesuai ke dalam mekanisme perencanaan daerah untuk mengurangi risiko-risiko di masa depan. Kajian Kerentanan dan Rencana Adaptasi Penyediaan Air Minum PDAM di berbagai daerah.

Hal-hal yang hadapi PDAM dari tahun ke tahun sebagai berikut:

– Kekeringan (Kelangkaan Air): Sebagian besar penyedia air bersih menghadapi berbagai tingkat risiko terkait dengan kelangkaan air baku, baik itu karena panjangnya periode sedikit sampai tanpa presipitasi/hujan atau menurunnya imbuhan (recharge) karena perubahan tata guna lahan (daerah tangkapan air). Perubahan iklim diperkirakan dapat memperberat risiko dari bahaya ini, terutama karena musim kemarau diperkirakan akan lebih panjang dan lebih berat di masa mendatang, musim hujan yang lebih pendek akan menghasilkan imbuhan yang lebih rendah.
Terkait dengan aset terbangun, kekeringan (musim kemarau panjang) tidak akan menimbulkan kerusakan fisik. Walaupun instalasi tidak dapat beroperasi dengan penuh, dengan berkurangnya air baku, intalasi tersebut tidak akan rusak, sehingga dapat kembali beroperasi penuh ketika pasok air baku normali kembali. Namun demikian, jaringan pipa transmisi dapat mengalami kerusakan dengan adanya kekeringan yang berkepanjangan, karena penduduk sekitar yang menyambung ke/merusak jaringan pipa tersebut untuk memenuhi kebutuhan airnya. Ini terjadi biasanya pada perpipaan yang ada di permukaan tanah.

– Banjir: meningkatnya intensitas badai dengan adanya perubahan iklim diperkirakan dapat menyebabkan makin seringnya kejadian banjir. Kejadian ini menimbulkan risiko bagi aset fisik DAM, khususnya pada bangunan sadap/intake, IPAM, dan tandon air, karena sering kali lokasinya
berdekatan sungai atau sumber air lainnya. Banjir juga mempengaruhi kualitas air pada aset alami (sumber air baku), dengan meningkatnya kekeruhan, sehingga pengolahan air baku menjadi lebih sulit dan biaya yang diperlukannya meningkat.

– Longsor: Juga terkait dengan peningkatan intensitas dan durasi/lamanya hujan, bahaya longsor menimbulkan risiko terbesar pada infrastruktur, terutama di sumur bor dan mata air serta bangunan sadap air permukaan mengingat lokasinya biasanya terletak di lokasi yang curam, di
ketinggian. Namun demikian, ancaman longsor relatif rendah terhadap kualitas dan kuantitas aset alami, terkecuali pada kejadian ekstrim, misalnya yang bisa mengubah arah aliran sungai.

– Kenaikan Muka Air Laut: Bahaya lainnya yang biasanya terkait dengan perubahan iklim adalah kenaikan muka air laut dengan adanya kenaikan temperatur air laut. Kenaikan muka air laut umumnya menimbulkan risiko terbesar bagi aset alami PDAM berupa adanya intrusi air payau,
dimana hal ini umum terjadi di daerah-daerah pesisir Indonesia, karena pemompaan air tanah yang tidak terkendali. Kenaikan muka air laut akan memperberat masalah ini, dan dapat juga menjadi ancaman bagi aset terbangun yang berlokasi di pesisir, yaitu dengan adanya penggenangan
air laut yang lebih sering di daerah pesisir pantai. [Sumber: iuwashplus.or.id/salatiga]

PT. Zain Prima Persada siap mendukung berkembangnya PDAM untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Telp : +62 21 2974 7604
Mobile : +62 817-4931-099
Email : [email protected]

ALAMAT KANTOR
Ruko Dwijaya No. 3E
Jl. Dwijaya Raya, Gandaria Utara,
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan,
DKI Jakarta, INDONESIA

Tags: relokasi pipa PDAM, Pipa PDAM, pemasangan pipa PDAM, proyek pipa PDAM.